Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaDAERAH

Malam Kemenangan 1 Syawal 1447 H: Harmoni Toleransi Beragama di Kefamenanu, TTU

24
×

Malam Kemenangan 1 Syawal 1447 H: Harmoni Toleransi Beragama di Kefamenanu, TTU

Sebarkan artikel ini

Kefamenanu-BreakingNewspost.Id – Malam 1 Syawal 1447 H, yang jatuh pada Jumat (20/3/2026), menjadi momen sakral “Malam Kemenangan” bagi umat Islam di Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Di tengah takbir menggema dan saling memaafkan, perayaan Idul Fitri tak hanya merayakan akhir puasa Ramadan, tapi juga menegaskan nilai kebersamaan lintas agama yang telah menjadi ciri khas wilayah ini.

Makna Tarawih dan Takbir di Bulan Ramadan

Kabiro ApKannews Kabupaten TTU, Bergita Abi, S.Ag, menjelaskan bahwa salat tarawih selama Ramadan bukan sekadar ibadah sunnah. “Tarawih menghidupkan malam dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus menjadi sarana mempererat kebersamaan dalam keluarga,” katanya kepada Kompas.com.

Menurut Bergita Abi, takbir jelang Idul Fitri membawa makna mendalam: mengagungkan Allah SWT sebagai ungkapan syukur pasca-puasa. “Takbir ini menjadi syiir Islam yang menghidupkan suasana kemenangan, mengingatkan kita pada nikmat iman dan kesehatan,” tambahnya. Harapannya, euforia kemenangan ini mendorong umat tetap rendah hati. “Kiranya umat terus bersyukur atas anugerah-Nya yang besar, khususnya bagi keluarga di tengah tantangan kehidupan modern,” ujar Bergita Abi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) TTU mencatat sekitar 5.309 jiwa umat Islam di Kefamenanu, atau sebagian kecil dari total penduduk TTU yang mayoritas Kristen. Meski demikian, komunitas Muslim aktif berintegrasi, dengan masjid-masjid lokal menjadi pusat kegiatan sosial sepanjang tahun.

Toleransi Beragama: Keunikan Positif TTU

Yang membuat Kefamenanu istimewa adalah harmoni antarumat beragama. Bergita Abi menyoroti keterlibatan warga non-Muslim dalam perayaan Idul Fitri—mulai menjaga keamanan hingga gotong royong membersihkan lapangan shalat. “Ini terlihat nyata: kepedulian tinggi dalam hari raya masing-masing, baik menjaga keamanan maupun kebersihan pasca-acara,” katanya.

Nilai kebersamaan ini bukan kebetulan. Secara historis, TTU dikenal sebagai melting pot budaya di perbatasan Timor, di mana tradisi adat seperti “fua fatu” (rumah terbuka) memperkuat ikatan sosial. “Saling menghormati perbedaan keyakinan dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan tetap terjalin secara profesional dan saling menghargai,” tegas Bergita Abi. “Hal ini mencerminkan semangat persatuan dan kerukunan antarumat beragama di tengah masyarakat.”

Pengamat sosial dari Universitas Nusa Cendana, Kupang, Dr. Yohanes Widodo, menambahkan perspektif berimbang: “Model Kefamenanu patut dijadikan contoh nasional. Di era polarisasi digital, toleransi seperti ini menjaga stabilitas sosial, asal didukung kebijakan pemerintah daerah yang konsisten.”

Pesan untuk NKRI dan Ucapan Idul Fitri

Sebagai jurnalis yang telah berkolaborasi dalam keluarga besar media di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bergita Abi menyampaikan ucapan hangat: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H / 2026 M. Mohon Maaf Lahir dan Batin kepada seluruh 5.309 jiwa umat Islam di Kefamenanu, Kab. TTU, NTT.

Pesan ini menggarisbawahi komitmen bersama: di balik kemenangan pribadi, persatuan bangsa tetap prioritas. Dengan demikian, Idul Fitri di TTU bukan hanya pesta, tapi pengingat akan anugerah toleransi yang melimpah.

Reporter: Bergita Abi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *