Maumere,BreakingNewspost.com — Upaya diversifikasi komoditas pertanian mulai didorong di wilayah pesisir Desa Maluriwu, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Mantan Kepala Desa Maluriwu tiga periode, Selestinus Laba, mengajak masyarakat setempat untuk memanfaatkan lahan kosong dengan menanam kakao, sebagai alternatif komoditas selain jambu mete dan kelapa yang selama ini dominan dikembangkan.
Selestinus—yang akrab disapa Selestin—mengatakan, inisiatif tersebut berangkat dari keinginannya untuk menguji potensi tanaman kakao di wilayah pesisir yang selama ini dikenal memiliki curah hujan rendah dan tingkat salinitas tanah yang relatif tinggi. Menurut dia, kondisi geografis Desa Maluriwu yang berada di kawasan pantai kerap menjadi pertimbangan utama masyarakat untuk tidak mengembangkan tanaman selain komoditas yang sudah terbukti tahan terhadap kondisi tersebut.
“Selama ini masyarakat Maluriwu mengembangkan jambu mete sejak tahun 1986. Sekarang saya mencoba memanfaatkan lahan kosong untuk menanam kakao. Ini pertama kali dicoba di wilayah ini, khususnya di daerah pantai,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Ia mengakui bahwa pengetahuannya terkait budidaya kakao masih terbatas. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk mencoba sekaligus membuktikan apakah tanaman kakao dapat tumbuh dan berbuah secara optimal di kawasan pesisir seperti Maluriwu.
Menurut Selestin, kakao memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan di pasar, sehingga berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat jika berhasil dikembangkan. Meski demikian, ia menekankan bahwa tahap awal ini lebih pada pembuktian agronomis dibanding orientasi keuntungan semata.
“Ini bukan hanya soal nilai ekonominya, tetapi juga pembuktian apakah kakao bisa tumbuh di daerah pantai. Kalau berhasil, tentu akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” katanya.
Sebagai anak dari keluarga petani, Selestin mengaku merasa terpanggil untuk memanfaatkan lahan warisan orang tua secara produktif. Ia berharap langkah yang diambilnya dapat menjadi contoh sekaligus memotivasi warga lain untuk mulai memanfaatkan lahan tidur yang masih tersedia.
Respons masyarakat terhadap ajakan tersebut, lanjut dia, mulai terlihat. Sejumlah petani dilaporkan telah mengikuti jejaknya dengan menanam kakao di kebun masing-masing. Antusiasme ini, menurutnya, tidak lepas dari meningkatnya harga kakao dalam beberapa waktu terakhir yang dinilai cukup menguntungkan.
“Selama ini masyarakat lebih memilih kelapa dan jambu mete karena faktor lingkungan, seperti kedekatan dengan laut dan curah hujan yang rendah. Namun sekarang ada semangat baru untuk mencoba kakao, selain karena harga yang menjanjikan juga karena ingin membuktikan kesesuaiannya di wilayah ini,” ujarnya.
Desa Maluriwu sendiri merupakan salah satu desa pesisir di bagian utara Pulau Palue dan menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Palue. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan, meskipun sebagian lainnya berprofesi sebagai pedagang, pelaku usaha mikro, guru, aparatur sipil negara, tenaga kesehatan, hingga penyedia jasa transportasi darat.
Upaya pengembangan kakao di wilayah ini diharapkan dapat memperkaya pilihan komoditas pertanian masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi lokal, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya lahan.
Reporter: Yuven Fernandez















