Soppeng-BreakingNewspost.id — Di tengah curah hujan yang nyaris turun setiap hari di Kabupaten Soppeng, sejumlah warga justru mengaku mengalami krisis air bersih. Aliran PDAM di beberapa wilayah dilaporkan mati total, bahkan disebut telah berlangsung hingga berbulan-bulan tanpa kepastian solusi.
Keluhan itu mencuat di media sosial dan memantik sorotan publik terhadap kualitas pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Soppeng.
Akun Facebook Sem Ble Ketek, melalui Grup KAREBA SOPPENG, Kamis (22/5/2026), mengaku heran karena rumahnya di Jalan Kesatria mendadak tidak lagi dialiri air, padahal ia telah menjadi pelanggan selama puluhan tahun dan rutin membayar tagihan setiap bulan.
“Saat ini musim penghujan, air mestinya melimpah. Tapi justru pelanggan di Jalan Kesatria tidak dialiri air PDAM,” tulisnya.
Ia mempertanyakan penyebab terganggunya distribusi air di tengah kondisi cuaca yang dinilai mendukung ketersediaan air baku.
“Kenapa dan mengapa ini bisa terjadi?” lanjutnya.
Keluhan serupa kemudian bermunculan. Akun Adhyms menyebut kondisi di Jalan Wijaya bahkan lebih parah. Menurut pengakuannya, aliran air di rumahnya sudah tidak berjalan selama sekitar empat bulan.
“Jangankan lancar, setetes pun sudah tidak jalan,” tulisnya.
Respons warga lainnya memperlihatkan akumulasi kekecewaan terhadap layanan distribusi air bersih di daerah tersebut. Ada yang menilai lemahnya pengawasan menjadi penyebab utama, sementara lainnya menyoroti ketimpangan distribusi antara jaringan lama dan jaringan baru.
“Jaringan lama kurang lancar, jaringan baru lancar. Ini yang harus dibenahi,” komentar akun Alirman M.
Desakan evaluasi terhadap manajemen PDAM pun mulai muncul di ruang publik. Beberapa warganet secara terbuka meminta adanya pembenahan menyeluruh terhadap pelayanan perusahaan daerah tersebut.
Situasi ini memunculkan pertanyaan publik: bagaimana mungkin krisis air terjadi di tengah musim hujan?
Pengamat kebijakan publik di Soppeng menilai persoalan itu tidak bisa dianggap sekadar gangguan teknis biasa. Menurutnya, PDAM sebagai penyedia layanan dasar wajib menyampaikan informasi secara terbuka kepada pelanggan apabila terjadi hambatan distribusi.
“Air bersih adalah kebutuhan vital masyarakat. Kalau ada gangguan, warga berhak tahu penyebabnya, berapa lama perbaikannya, dan apa solusi sementara yang disiapkan,” ujarnya.
Ia juga menilai minimnya komunikasi publik berpotensi memperbesar keresahan masyarakat, terlebih ketika keluhan yang sama muncul dari berbagai wilayah dalam waktu bersamaan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PDAM Kabupaten Soppeng belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab macetnya distribusi air di Jalan Kesatria dan Jalan Wijaya, termasuk mengenai langkah penanganan maupun target normalisasi layanan.
Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar soal air yang berhenti mengalir. Di tengah tagihan yang tetap berjalan setiap bulan, masyarakat berharap pelayanan dasar tidak ikut “mati” bersamaan dengan keran di rumah mereka.Tim















