Maumere-BreakingNewsPost.id – Di tengah arus modernisasi, warisan budaya lokal masih bertahan di Dusun Habipiret, Desa Manubura, Kecamatan Nelle, Nusa Tenggara Timur. Salah satunya adalah tradisi mengiris tuak (moke), yang hingga kini menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Stanislaus Nong Gaga, warga Habipiret, menjadi salah satu penjaga tradisi tersebut. Sejak usia muda, ia telah menekuni pekerjaan sebagai pengiris tuak, sebuah keahlian yang diwariskan secara turun-temurun.
“Saya kerja sebagai pengiris tuak sejak usia muda. Ini satu-satunya keahlian yang saya punya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, biaya adat, dan sekolah anak-anak,” tuturnya, Jumat (24/04/2026).
Pekerjaan ini, menurut Nong Gaga, bukan tanpa tantangan. Prosesnya cukup melelahkan dan membutuhkan tenaga ekstra. Setiap hari, ia harus melakukan pengirisan dua kali, pagi dan sore, sebelum kemudian melanjutkan proses penyulingan hingga menghasilkan moke.
Hasil produksi tersebut sebagian besar dijual di sekitar wilayah Desa Manubura, khususnya di Dusun Habipiret. Keterbatasan akses pasar membuat distribusi moke masih bersifat lokal.
Bagi masyarakat setempat, tuak atau moke bukan sekadar minuman, melainkan bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya. Dalam berbagai ritual adat, moke bersama sirih pinang menjadi unsur yang tidak terpisahkan.
Selain nilai budaya, moke juga memiliki nilai ekonomi. Bagi para pengiris seperti Nong Gaga, hasil penjualan moke menjadi sumber penghasilan utama untuk menopang kehidupan keluarga.
Namun, keterbatasan pengetahuan dan akses membuat usaha ini sulit berkembang. Nong Gaga mengaku hanya memiliki keterampilan mengiris dan menyuling tuak, tanpa memahami aspek pemasaran atau pengembangan usaha yang lebih luas.
“Saya hanya bisa mengiris dan menyuling. Jualnya juga hanya di kampung. Hal-hal lain saya tidak paham,” ujarnya jujur.
Meski demikian, ia menyimpan harapan sederhana: agar moke produksi mereka bisa menjangkau pasar di luar daerah.
“Kalau bisa dijual sampai ke luar daerah, mungkin kesejahteraan kami bisa lebih baik,” harapnya.
Kisah Nong Gaga mencerminkan realitas banyak pelaku ekonomi berbasis budaya di daerah—bertahan dengan keterampilan tradisional, namun terbatas dalam akses dan peluang. Di sisi lain, potensi moke sebagai produk lokal bernilai ekonomi masih terbuka lebar jika didukung pembinaan, pemasaran, dan penguatan kapasitas masyarakat.
Penulis: Ary Haryanto















